[Serba-serbi di Balik Kripik] Mengapa Harus Renyah

Sejak kecil saya suka baca, sejak saya bisa baca. Waktu masih kecil saya suka baca cerita bergambar. Kira-kira kelas tiga Sekolah Dasar saya mulai suka baca novel Seri Lima Sekawan karya Enid Blyton. Sejak itu saya bisa membaca habis novel dalam waktu sehari semalam. Semakin bertambah usia semakin tebal novel-novel yang saya baca.

Sekarang di usia saya yang berkepala empat ternyata kemampuan dan kekuatan  saya membaca buku menurun. Saya tidak bisa menyelesaikan baca tulisan fiksi lebih dari lima halaman dalam sekali baca, dan memerlukan niat kuat untuk membaca sebuah artikel panjang. Sering saya harus membaca secara bersambung tulisan-tulisan dalam note di akun FB para sahabat, tidak mampu menyelesaikannya dalam sekali baca.

Saya teringat buku “30 Kisah Teladan” karya KH. Abdurrahman Arroisi,buku kecil yang sarat makna. Dulu saya memiliki buku ini sampai volume ke sembilan. Masing-masing volume berisi tiga puluh kisah teladan, kisah ringan dan singkat. Saya sangat menyukai buku ini. Sekarang saya merasa sedikit menyesal tidak menyimpan koleksi buku “30 Kisah Teladan” dengan baik, entah ada di mana.

Mengapa seorang anak lebih segan kepada Ayah dibanding Ibu? Karena saat menegur Ayah menyampaikan dengan lugas, singkat dan jelas, sedangkan Ibu cenderung menyampaikan dengan volume yang besar, terlalu panjang lebar dan tinggi hehehe. Bila banyak pesan disampaikan dalam satu penyampaian yang panjang, besar kemungkinan sang penerima pesan kesulitan mencernanya,hanya sedikit atau bahkan tidak ada pesan yang tertangkap.

Tulisan singkat, yang hanya berisi satu atau dua pesan, memberi waktu pembacanya untuk berhenti dan merenung, sebelum lanjut menerima pesan pada tulisan singkat berikutnya.

Ada juga tulisan panjang yang berisi hanya satu atau dua pesan. Tapi bila satu atau dua pesan ditulis secara panjang lebar, besar kemungkinan isi tulisannya berputar-putar seperti ibu cerewet yang mengomeli anaknya. Sebaliknya ada juga tulisan pendek yang berisi banyak pesan dan rumit.

Tulisan yang renyah adalah tulisan yang mudah dan cepat dicerna pembacanya. Tulisan yang terlalu panjang makan waktu untuk mencernanya. Dan tidak semua tulisan pendek mudah dicerna, karena bisa jadi pesan yang terkandung terlalu berat dan rumit.

Itulah mengapa saya ingin menulis artikel-artikel pendek yang hanya berisi satu atau dua pesan. Karena saya sendiri , di usia saya sekarang, sudah tidak mampu membaca tulisan yang terlalu panjang. Saya kira orang yang tidak begitu suka baca juga akan bersedia baca bila tulisannya singkat. Tulisan yang singkat terasa ringan. Sebelum mulai membaca, sang pembaca yang sudah tahu sekilas panjang tulisannya, merasa lebih ‘ikhlas’ meluangkan waktunya, karena hanya sebentar.

Saya ingin menulis yang renyah, karena saya suka membaca “30 Kisah Teladan” yang renyah. Saya ingin menulis yang renyah agar pembaca tidak merasa sedang diomeli.

Saat ini bahkan ada tulisan yang supermini, yang dibatasi hanya beberapa puluh karakter saja, yaitu pada media Twitter. Tantangannya : bisakah menyampaikan sebuah pesan utuh hanya dengan 140 karakter?  Saya mencoba tantangan itu dalam topik “Efektif dan Bahagia” di twitter saya @nurmuhammadian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s