[Kliping, Malang Post 30 September 2012] Komunikasi Efektif dalam Proses Perkenalan Bakal Calon Walikota

Oleh Nur Muhammadian*

 

Kota Malang sedang bersiap menghadapi perhelatan besar, Pemilihan Walikota Malang. Rencananya PILKADA Kota Malang akan diselenggarakan pada tanggal 2 Mei 2013, namun keramaian persiapannya sudah dirasakan warga Kota Malang sejak awal tahun ini.

Wajah-wajah cantik dan tampan bakal calon walikota sudah bertebaran di muka bumi Kota Malang. Sejauh kita memandang pasti tertangkap senyuman sang bakal calon Walikota. Bahkan senyum-senyum manis itu mengikuti kita saat berkendara karena terpasang di kaca belakang angkutan kota.

“Wah pohon-pohon pinggir jalan di Kota Malang habis digunakan bernaung para bakal calon Walikota” begitulah celetukan seorang teman, karena memang hampir tidak ada pohon tersisa tanpa terpasang papan iklan mini di bawahnya bergambar senyum sang bakal calon Walikota. Padahal ada ribuan atau bahkan jutaan pohon di kota Malang yang terpasang iklan, berarti banyak papan iklan mini yang harus diproduksi? Memang banyak sekali. Biayanya?

Agar dikenal penduduk Kota Malang yang berjumlah lebih dari 890.000 jiwa (data tahun 2011) yang menempati luas wilayah 110,06 Km2 , memang dibutuhkan upaya dan biaya yang besar. Adakah cara lain selain memproduksi dan menyebarkan papan iklan? Banyak cara, tetapi untuk memperkenalkan diri dengan obyek banyak dan luas memang paling efektif menggunakan papan iklan.

Pada semua wilayah di Indonesia, saat mendekati PILKADA, proses perkenalan diri para calon kontestan   memang selalu diawali tersebarnya gambar-gambar senyum sang calon kontestan. Saya menyebutnya proses perkenalan diri , bukan kampanye, karena memang proses kampanye belum dibuka dan diijinkan KPU, dan gambar wajah yang tersebar pun ada yang belum secara resmi didukung Partai Politik atau resmi mewakili Partai Politik. Bahkan untuk kontestan independent proses perkenalan diri ini justru langkah awal agar bisa memenuhi persyaratan mengikuti pemilihan, yaitu mendapatkan dukungan minimal empat persen jumlah penduduk dalam bentuk tertulis dilengkapi KTP.

Apakah proses perkenalan diri bakal calon Walikota Malang yang dilakukan dengan menyebar papan iklan saat ini sudah cukup efektif? Mungkin cukup kalau tujuannya hanya sekedar dilihat dan diketahui penduduk Malang.

“ooo ini tho yang namanya Pak Arema….”

“Wah ternyata Bu Aremanita ini cantik juga…”

Sayang sekali biaya yang dikeluarkan bila tujuannya hanya sekedar dilihat dan diketahui. Yang namanya mengenalkan diri bukan sekedar diketahui, tapi lebih dari itu.

Dari beberapa kata-kata yang menyertai gambar, yang paling tidak efektif tapi hampir semua bakal calon Walikota menggunakannya adalah jargon tentang perubahan. Pada PILKADA Kota Malang 2013, kecuali Wakil Walikota sekarang mencalonkan diri, tidak ada calon dari pihak incumbent, artinya siapapun yang terpilih pasti akan ada perubahan kebijakan. Menawarkan perubahan sama saja dengan menawarkan sesuatu yang sudah pasti dan bisa dilakukan semua orang, lalu apa spesialnya sehingga warga perlu memilih sang bakal calon Walikota?

Ada yang memberi pernyataan di papan iklan bahwa sang bakal calon Walikota adalah seorang warga Malang asli. Berapa persen penduduk Malang yang punya hak memilih yang asli warga Malang? Apakah kalau terpilih jadi Walikota nanti hanya melayani penduduk yang warga Malang asli? Banyak yang memasang pernyataan-pernyataan di papan iklan yang tidak mewakili diri sang bakal calon secara spesifik, tidak terkesan mengenalkan diri.

“Saya orang baik”…“Saya tinggal di Malang”…“Saya orang jujur”…“Saya siap menerima amanah”

Setiap warga Kota Malang yang membaca pernyataan seperti ini pasti berkomentar dalam hati “Semua orang di Kota Malang juga begitu…”

“Ayo berubah!”…”Ayo membangun Kota Malang jadi lebih baik!”

Orang yang membaca pernyataan di papan iklan seperti ini mungkin akan bersungut dalam hati “Belum jadi Walikota sudah nyuruh-nyuruh”. Bukankah tugas Walikota melayani rakyatnya, tidak asal nyuruh?

Lalu pernyataan seperti apa yang efektif dalam komunikasi kepada warga Kota Malang pada proses perkenalan diri bakal calon Walikota Malang?

Mari kita perhatikan dan belajar dari team sukses pasangan Jokowi-Ahok.

Kemenangan Jokowi-Ahok dalam PILGUB DKI Jakarta adalah karena kualitas komunikasi team sukses mereka yang efektif. Mereka fokus menyampaikan prestasi-prestasi Jokowi-Ahok, khususnya Jokowi, dan bisa mengesankan warga DKI Jakarta bahwa Jokowi-Ahok yang dibutuhkan untuk kebaikan masa depan.

Joko Widodo adalah Walikota Solo, bukan warga Jakarta, namun bisa mencuri hati warga DKI Jakarta. Issue SARA dan beberapa issue kesalahan masa lalu calon wakilnya tidak bisa menggoyahkan pamornya karena dikalahkan oleh prestasi-prestasi pencapaian yang dikabarkan kepada warga DKI Jakarta. Warga DKI Jakarta tidak peduli bahwa Solo hanya sebuah kota kecil dengan tingkat kompleksitas yang jauh lebih rendah dari DKI Jakarta yang sebuah propinsi Ibu Kota Republik Indonesia. Warga DKI Jakarta hanya memandang bahwa Jokowi sosok yang dekat dengan rakyat dan sudah melakukan suatu tindakan  untuk rakyat, bukan sekedar pelempar wacana atau janji-janji indah, atau bukan sekedar hidup sederhana dan jujur.

Jargon “Kami tidak butuh janji tapi bukti” sudah mulai diterapkan oleh warga DKI Jakarta, meskipun bukti itu belum tentu sesuai bila diterapkan di wilayah mereka.

Komunikasi efektif dengan menyampaikan bukti-bukti prestasi yang pernah dicapai itulah yang seharusnya disampaikan pada  papan iklan dalam proses perkenalan bakal calon Walikota Malang. Memang masih banyak kesempatan untuk menyampaikan hal itu dalam masa kampanye, tapi bukankah kesan pertama sangat berarti dan melekat di hati? Masih banyak waktu, untuk mengubah strategi komunikasi, bahkan masih ada waktu untuk mencetak prestasi yang akan dikabarkan kepada warga Kota Malang.

Hidup adalah pilihan. Dalam PILKADA Kota Malang 2013 warga Kota Malang punya banyak pilihan untuk memperbaiki kualitas masa depan kotanya, partai politik masih punya kesempatan untuk memilih dan menentukan calon Walikota Malang yang akan diusung, team sukses punya pilihan menggunakan komunikasi yang efektif untuk mengenalkan bakal calon Walikotanya. Silakan.

(* Praktisi NLP, Life Coach, Penulis buku “Kripik untuk Jiwa – Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya”, Penduduk Kota Malang)

[Penulis adalah seorang Trainer, Coach, dan lebih suka disebut sebagai Mental Programmer. Memiliki Lisensi resmi dari Richard Bandler sebagai Master Praktisi  NLP. Untuk mengetahui informasi lengkap tentang penulis silakan kunjungi http://www.NurMuhammadian.com Penulis buku “Kripik untuk Jiwa”]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s