[Kripik 68] Menikmati Setiap Gigitan

banana-cake-ay-1875309-x

Gambar dari recipe.com

Lili dan Sari bertemu lagi setelah sekian lama berpisah. Mereka melepas kerinduan sambil menceritakan kondisinya masing-masing.
“ALHAMDULILLAH anakku sudah tiga, cewek semua. Anakmu berapa Sar…?
“Anakku empat…Dua cowok dan dua cewek…Wah anakku nakal-nakal Lil…! Susah diatur…Suamimu kerja di mana Lil…?”
“Aku dan suamiku buka usaha bersama jual kue, lumayan kecil-kecilan…”
“Wah enak kamu ya…Suamiku kerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak. Sejak naik jabatan dia sangat sibuk, pergi pagi pulang malam. Kami jadi jarang bisa bersama…”
Sepanjang obrolan Sari selalu mengeluhkan kondisi hidupnya, padahal dalam banyak hal sebenarnya dia lebih baik dari Lili. Mulai masalah keluarga, ekonomi, lingkungan, sampai masalah negara, seakan-akan hidup Sari penuh dengan penderitaan.
“Lil…Kok hidupmu bahagia banget ya…? Bagi dong resepnya bisa bahagia gitu…?”
Lili tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya.“Besok pagi kalau kamu ada waktu kuundang ke rumahku…Akan kubuatkan kue cake pisang kesukaanmu. Besok akan aku bagi resep yang kamu minta itu.” Lili menyodorkan kartu nama kepada Sari.
“Asyiiik…Gak merepotkan khan…? Oke sampai bertemu besok”
Pagi-pagi Sari sudah sampai di rumah Lili yang sederhana dan ukurannya setengah luas rumah Sari, tapi terasa penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan.
Setelah ngobrol beberapa waktu, Lili mengeluarkan sepiring kue cake pisang kesukaan Sari.
“Sejak dulu kamu memang pintar masak Lil…” Sari lahap menyantap sepotong demi sepotong kue kesukaannya.
Setelah habis beberapa potong Lili menghentikan Sari “Stop dulu Sar…!” Tangan Sari yang memegang kue terhenti. “Sari…Coba sekarang kamu makan kue-kue itu pelan-pelan. Pejamkan matamu, dan nikmati kue itu dengan mengunyah pelan-pelan. Setiap gigitan bayangkan bahwa itu gigitan terakhir, seakan kamu tidak akan bertemu kue itu lagi…” Meskipun agak bingung dan ragu Sari menuruti perintah Lili.
“Bagaimana…? Terasa lebih nikmat khan?”
“Iya sich…Eh iya bener Lil…Terasa lebih nikmat…”
Lili tersenyum memandang sahabatnya yang tampak begitu menikmati kue cake pisang, merasa sangat bahagia bisa membahagiakan sahabatnya.
“Itulah resep bahagiaku Sar…”
Sari menghentikan makannya, terdiam memandang Lili, menunggu kata-kata selanjutnya.
Lili melanjutkan.“Seperti menikmati setiap gigitan kue aku dan suamiku selalu berusaha menikmati setiap moment hidup ini, sekecil-kecilnya. Dengan cara itu hidup kami jadi penuh rasa syukur. Rasa syukur itulah sumber kebahagiaan…Aku berharap kamu mau melakukan apa yang kami lakukan…Aku sangat ingin kamu bisa selalu bahagia…Kamu pasti sepakat denganku, bahwa secara duniawi kamu lebih baik dariku. Kamu memiliki anak laki-laki, sedangkan aku tidak. Penghasilan suamimu sangat besar, jauh lebih besar dari penghasilan keluarga kami. Seharusnya kamu bisa jauh lebih bahagia dari kami, dan aku yakin kamu bisa…”
Sari terharu, dia memeluk Lili, matanya berkaca-kaca…”Terima kasih Lil…Kamu benar-benar sahabatku yang terbaik…”

Nikmati setiap gigit makanan, suap demi suap. Mengabaikan kenikmatan kecil yang menyebabkan sulit bersyukur.
Hidup efektif dan bahagia. Tanpa rasa syukur mustahil bahagia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s